Di Kedungkrisik, Hanya Enam Warga Gunakan Kompor Minyak
Pilih Kayu Bakar, Terakhir Pakai Kompor Tahun 1972
Mengherankan. Di saat pemerintah sibuk kenaikkan harga BBM, penyaluran BLT dan konversi minyak tanah ke gas, ternyata ada sekelompok masyarakat yang masih menggunakan kayu bakar untuk memasak.
Laporan YUDA SANJAYA
dari HARJAMUKTI
FAKTA yang cukup mengejutkan ketika menyaksikan sebuah perkampungan yang mayoritas masyarakatnya menggunakan kayu bakar. Pemandangan tembok dan genting rumah warga pun nyaris seragam, menghitam. Pasalnya, di sana hanya enam orang yang menggunakan kompor minyak, sementara sisanya menggunakan kayu bakar untuk memasak.
"Di daerah ini dari 300 kepala keluarga (KK), hanya enam orang yang pakai kompor, selebihnya menggunakan kayu bakar," terang Kasad, warga RT 02 RW 06 Kedungkrisik, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti saat ditemui di rumahnya, Minggu (1/6).
Hal serupa juga ditegaskan istrinya Aisyah (50). "Hampir semua warga di sini pakai kayu bakar, karena sudah tidak mampu membeli minyak tanah. Tapi banyak juga yang sudah sejak dulu menggunakan kayu bakar," imbuhnya.
Aisyah mengaku terakhir kali dia membeli minyak tanah untuk memasak tahun 1972. "Dulu minyak tanah selain untuk memasak, juga digunakan untuk penerangan karena belum ada listrik dan harganya masih murah, cuma Rp250/liter," ujar ibu delapan anak ini.
Ditanya mengenai alasan tidak menggunakan kompor, Aisyah mengatakan bahwa dirinya lebih memilih kayu bakar karena lebih ekonomis dibanding menggunakan kompor minyak.
"Untuk dua hari cukup beli lima ikat seharga Rp5.000 atau kalau mau gratis tinggal mencari di kebun. Tapi kalau beli minyak tanah Rp4.000 cuma dapat 1 liter dan hanya cukup untuk keperluan masak sehari. Lihat saja kompor saya sudah berkarat karena sudah lama tidak dipakai," katanya.
Dia menambahkan, dulu sebenarnya masih sanggup membeli minyak tanah tapi hanya untuk memancing menyalakan api saat memasak. Seliter minyak baru habis setelah satu minggu, tapi sekarang untuk menyalakan kayu bakar cukup menggunakan kertas, plastik atau benda-benda yang tipis dan mudah terbakar.
Bahkan karena saking sedikitnya masyarakat yang menggunakan kompor minyak, Aisyah pun dengan mudah menghapal nama-nama tetangganya yang menggunakan kompor minyak. "Suanda, Qotimah, Tini, Kasum, Mustri dan Kayah. Mereka sampai saat ini masih pakai kompor, tapi terkadang mereka juga pakai kayu bakar," ujarnya.
Di tempat berbeda, Qatimah salahsatu pemilik kompor minyak di Kedungkrisik mengakui memang tetangganya jarang yang menggunakan kompor minyak, karena tidak mempu membeli. Selain itu mereka juga sudah terbiasa menggunakan kayu bakar," katanya.
Namun Qatimah juga mengatakan, pasca kenaikan harga BBM, dirinya kini ikut beralih menggunakan kayu bakar. "Sekarang sembako naik, kalau dipakai beli minyak, tidak akan cukup untuk belanja," katanya.(*)
Kamis, 05 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar